Beberapa waktu terakhir, media sosial diramaikan oleh perdebatan soal sumber air merek AQUA. Video-video yang memperlihatkan air diambil melalui sistem bor dari dalam tanah membuat publik geger. Banyak yang merasa tertipu dengan iklan “air pegunungan” yang seolah menunjukkan air langsung ditimba dari lereng gunung. Komentar seperti “Katanya dari gunung, kok dibor?” pun membanjiri jagat maya. Namun sebelum buru-buru menyalahkan iklan atau perusahaan, penting memahami bagaimana sistem air pegunungan bekerja. Di balik setiap botol air kemasan, ada proses ilmiah panjang yang melibatkan geologi, konservasi, dan tata kelola lingkungan.
AQUA tidak mengambil air sembarangan, melainkan dari sistem alami yang disebut aquifer — istilah ilmiah resmi untuk lapisan batuan bawah tanah yang dapat menyimpan dan mengalirkan air. Air yang tersimpan di aquifer inilah yang kemudian muncul sebagai mata air alami di kaki gunung. Istilah ini sudah digunakan oleh para ilmuwan dan profesional hidrogeologi di seluruh dunia, bukan istilah buatan perusahaan. AQUA kemudian menggunakan istilah “Aqualifer” sebagai versi branding untuk komunikasi publik agar lebih mudah diingat masyarakat, bukan untuk mengganti istilah ilmiah. Dengan kata lain, aquifer adalah fakta geologi, sedangkan Aqualifer adalah nama marketing yang dimodifikasi dari istilah resmi itu.
Air pegunungan yang disebut “murni” ini sebenarnya melalui proses panjang di bawah tanah. Saat hujan turun di hutan pegunungan, sebagian air meresap ke tanah, melewati lapisan batu dan mineral, lalu tersimpan di rongga bawah tanah. Proses ini bisa memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun. Air yang tersaring sempurna kemudian keluar sebagai mata air alami. Jadi ketika AQUA mengatakan airnya berasal dari pegunungan, itu benar secara ilmiah, meski air tersebut melewati perjalanan panjang di dalam batuan, bukan langsung dari permukaan lereng gunung.
Setiap titik sumber air AQUA terletak di kawasan lindung di sekitar gunung berapi aktif seperti Gunung Gede, Sumbing, atau Slamet. Kawasan ini dipilih karena batuan vulkaniknya menyaring air secara alami dan menyimpan mineral seimbang. Air dari aquifer diuji secara ketat: kadar pH, kandungan mineral, dan kestabilan debit aliran. Jika memenuhi standar, perusahaan baru mendapat izin pemerintah untuk mengambilnya secara terbatas.
Proses pengambilan air tidak bisa sembarangan. Perusahaan wajib melakukan riset hidrogeologi untuk memetakan struktur batuan, menentukan arah aliran air, dan menghitung kapasitas debit alami. Pemerintah juga mensyaratkan adanya AMDAL, izin eksploitasi air tanah, serta laporan pemantauan berkala. Setiap sumber memiliki batas kuota agar keseimbangan alam tetap terjaga. Zona resapan juga dijaga dengan menanam pohon, melindungi hutan sekitar, dan mencegah erosi agar air hujan tetap meresap dan mengisi kembali aquifer.
Setelah keluar dari mata air alami, air disalurkan langsung ke pabrik melalui pipa stainless steel tanpa pompa mekanis agar tekanan alami tetap stabil. Berbeda dengan sumur bor di permukiman, air aquifer mengalir alami. Di pabrik, air menjalani mikrofiltrasi dan ozonisasi untuk memastikan steril tanpa mengubah rasa atau kandungan mineral. AQUA tidak menambahkan bahan kimia. Dari sana, air dikemas hingga sampai ke tangan konsumen, sehingga klaim “murni dari pegunungan” tetap sahih secara ilmiah, meski dipresentasikan dengan visual romantis di iklan.
Masalah muncul ketika narasi ilmiah ini tidak sampai ke publik. Banyak yang mengira perusahaan menipu karena melihat pipa besar atau sumur bor, padahal itu bagian dari sistem pengambilan aquifer yang legal dan terkontrol. Masalah nyata bisa timbul jika pengambilan air melebihi kapasitas pulih alami atau hutan di sekitar sumber rusak, sehingga mata air mengecil dan sumur warga ikut terdampak.
Sebagian besar masyarakat juga belum memahami perbedaan antara air tanah dangkal dan aquifer dalam. Air tanah dangkal berada beberapa meter di bawah permukaan, mudah terkontaminasi, dan biasa digunakan rumah tangga. Air aquifer dalam bisa berada puluhan hingga ratusan meter di bawah tanah, terlindung lapisan batuan vulkanik. Inilah yang membuat pengambilan aquifer berbeda dari sumur rumah tangga.
AQUA berhasil membangun citra emosional: air murni dari pegunungan, keseimbangan alam, dan kesegaran abadi. Namun di era informasi terbuka, publik menuntut transparansi: seberapa besar air diambil, dampaknya pada lingkungan, dan keterlibatan masyarakat sekitar. Transparansi data debit pengambilan, pemantauan lingkungan, dan program konservasi bisa menutup jurang antara persepsi publik dan sains.
Kesimpulannya, air AQUA memang berasal dari pegunungan, melalui sistem aquifer alami yang sah secara ilmiah, dan istilah “Aqualifer” hanyalah versi branding. Keseimbangan ekologis tetap menjadi tanggung jawab perusahaan, pemerintah, dan masyarakat agar sumber air ini lestari bagi generasi berikutnya.
