 |
| source: www.pexels.com |
Guys semua orang ingin
sukses,Tahu caranya, tahu maksudnya, tahu tujuan dan cita-citanya, tahu meraihnya
tapi enggan melaksanakannya.
Seperti peribahasa pungguk merindukan
bulan hingga sukses seperti cerita indah dalam dongeng yang padahal
setiap orang punya suksesnya masing-masing jika mau. Pembahasan kali ini
mengenai zona nyaman.
Secara sederhana, zona nyaman adalah
diri kita yang tidak mengalami perubahan berarti. Tidak mengubah diri menjadi
lebih baik dari hari kemarin, dari bulan kemarin, dan tahun kemarin.
Begitu-begitu saja.
Tapi setiap lisannya terucap, “aku ingin sukses, tapi…”
hingga berjuta alasan diungkapkan tak terbantahkan. Bahkan dinasihatipun
seperti mental. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Sungguh ironiskan?
Lantas mengapa ingin sukses tapi tidak mau menjalani prosesnya? Tandanya kita
masih berada di zona nyaman.
Emang
Gak Boleh Ya di Zona Nyaman?
Saya juga agak ragu sebenarnya
definisi zona nyaman dalam perubahan diri manusia itu seperti apa. Toh
nyatanya walaupun kita bekerja keras, menjadi kreatif, menjadi produktif
tetap saja tujuan utamanya adalah untuk memasuki wilayah zona nyaman. Benar?
Lalu kenapa jadi zona nyaman itu disebutkan menjadi salah satu penghambat
kesuksesan jika berlama-lama disana? Bukankah itu yang kita raih atau capai
setelah bekerja keras? Hm… Perlu kita bahas lebih lanjut.
Saya baca dari Femina bahwa
kita berada di zona nyaman saat kita sudah terbiasa dengan keadaan yang ada
tanpa mau berupaya untuk lebih meningkatkan lagi apa yang ada. Semisal
karyawan misalnya, dia bisa naik pangkat setelah 5 tahun bekerja secara
normal. Namun nyatanya, setelah 5 tahun dia tidak naik pangkat karena
evaluasi kerjanya memang tidak menghendaki dirinya memperoleh hal itu.
Lantas
dia tenang-tenang saja. Ada benarnya, namun bagi saya itu juga 100% benar.
Sehingga kita boleh berada di zona nyaman, selama apapun. Asalkan tidak menyesali
dikemudian hari saat diri begitu-begitu saja hasilnya. Kalau menyesali
berarti harus bergerak beranjak dari zona nyaman.
Selama
Apa berada di Zona Nyaman?
Tidak ada batasan waktu. Seorang
dikatakan berada di zona nyaman itu hampir mendekati definisi dari rasa
syukur dan ikhlas. Hanya saja bedanya ada kerja keras yang tidak dihitungnya
saja. Jika berada di zona nyaman berarti setelah bekerja keras, dia menikmati
hasilnya, tapi tidak berpikir untuk menambah potensi dirinya.
Sedangkan
ikhlas, dia sudah bekerja keras, dia menikmati hasilnya, lalu dia berusaha
lagi jadi lebih baik, tapi Tuhan belum mengijinkannya untuk menikmati hasil
yang lebih baik. Tipis kan? Kadang terlalu di zona nyaman membuat orang
merasa ikhlas, padahal bukan ikhlas dalam dirinya. Tapi menyerah karena
keadaan.
Sayapun pernah berada di zona nyaman.
Setidaknya selama setahun lebih menikmati hidup menulis, walau ada hasil yang
dicapai dengan terbitnya buku pertama, saya terlalu terlena menanti hasil
yang lebih dari buku pertama tanpa melanjutkan menulis buku kedua. Saat itu
juga tanpa bekerja. Bayangkan saya harus bergerak jika tidak, walaupun saya
menerbitkan buku lagi, nantinya waktu sudah tidak cukup karena usia terus
bertambah.
Akhirnya harus menulis buku kedua, dan mencari kerja. Hasilnya?
Ya, saya mendapatkan pekerjaan, keluar dari zona nyaman, dan bersiap untuk
segala perubahan. Kapanpun kamu mau di zona nyamanmu itu adalah hakmu.
Kapanpun kamu ingin keluar, itu juga hakmu. Terpenting adalah semua atas
kesadaranmu sendiri.
Dari Pada
Keluar, Mending Memperbesar Zona Nyamanmu
Benar. Konsep ini saya dapati beberapa
tahun yang lalu. Setidaknya, hanyalah ungkapan lain dari keluar dari zona
nyaman saja. Intinya mirip bahkan cenderung sama. Kok bisa? Keluar dari zona
nyaman berarti kita meninggalkan aktifitas yang lalu yang tidak produktif dan
memilih aktifitas baru yang lebih produktif. Sedangkan memperbesar zona
nyaman berarti kita tidak sepenuhnya meninggalkan apa yang kita sukai namun
juga sembari mencari aktifitas baru yang lebih produktif.
Saya menyebutnya demikian karena saya
masih melakukan hal-hal di zona nyaman tapi juga mencoba mencari dan
mengerjakan hal baru yang lebih produktif. Apakah nantinya kedua hal itu
saling mengalahkan atau malah mendukung tentu harus kita jalani dulu agar
tahu.
Sebagian orang begitu saja meninggalkan aktifitas lamanya dikarenakan
dorongan aktifitas baru yang lebih produktif, sayangnya banyak juga yang
akhirnya mengeluh merindukan aktifitasnya yang dulu. Lalu aktifitas yang baru
menjadi tidak produktif karena tidak bersemangat. Jika hal itu terjadi kita
hanya kehabisan energi karena selalu berpindah-pindah aktifitas hanya karena
ingin keluar dari zona nyaman.
Sudah siap keluar dari zona nyamanmu?
Kalau saya tentu harus siap, sembari memperbesar zona nyaman yang ada, siapa
tahu nantinya saat keluar dari zona nyaman yang sekarang, bisa menggabungkan
zona nyaman yang lama dengan yang baru ditemukan. pahami dengan
baik dan bijaksana, keluarlah dari zona nyamanmu bukan karena dorongan orang
lain, tapi karena kemauanmu sendiri.
Perluas zona nyamanmu juga bukan karena
dorongan dari saya, tapi keinginanmu untuk siap melakukan banyak hal dalam
satu waktu.
Semoga bermanfaat
|